Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   

About Me

My photo
Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
HP/WA : 085800000608

Total Pageviews

PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI






PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI
Dosen : Drs. MUH. SHODIQ, M.Ag






 

A.    PENGERTIAN
 
1.    ETIMOLOGI
       Curriculum (bhs latin) : A running course, dan courier (bhs Perancis) : to run : berlari

2.    PENGERTIAN SEMPIT
Rencana mata pelajaran yang ditempuh atau diselesaikan siswa untuk mencapai tingkat tertentu. Implikasinya dinamika PBM, serta kreatifitas guru dan murid terhenti.

3.    PENGERTIAN LUAS
Semua kegiatan yang dilakukan dan dialami peserta didik dalam perkembangannya (formal/informal) guna mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum dalam arti luas ini menurut Beane (1986) dipandang sebagai : produk, program, hasil belajar, dan pengalaman belajar.

 
B.    KEDUDUKAN KURIKULUM
  1. Kurikulum sebagai alat dalam perencanaan keberhasilan suatu pendidikan yang dicita-citakan.
  2. Kurikulum sebagai penentu arah dalam pembelajaran yang terkait dengan proses maupun substansinya.
  3. Kurikulum terkait dengan perencanaan, pelaksanaan di lapangan, guru, lingkungan dll.                 


C.    MASALAH KURIK.& PERANAN GURU
  1. Pendidikan merupakan sektor penting dan strategis (pemerintah, keluarga dan individu) dalam kapasitasnya masing-masing.Konskuensinya perencanaan pendidikan harus menyerap dan mengkondisikan aspirasi pendidikan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
  2. Perencanaan pendidikan harus dikorelasikan thd kebutuhan masyarakat.
  3. Kesesuaian program pendidikan harus diorientasikan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang dan yang akan terjadi.
  4. Disadari bahwa proses pendidikan berkaitan dg kepentingan manusia masa kini dan masa yang akan datang.
  5. Jika dilihat dari aspek kurikulum, kita masih harus banyak bekerja untuk membenahi.
  6. Kurikulum sekolah kita dalam arti produk masih banyak kerancuan, misalnya kurikulum yang sarat dg mata pelajaran.
  7. Adanya mutual exclusive (secara tumpang tindih) baik secara vertikal maupun horizontal
  8. Aspek kurikulum dari proses pembelajaran dipandang sebagai blueprint.
  9. Praktek pendidikan kita telah lama berjalan dg. Model satu arah
  10. Sistem pembelajaran yang masih menggunakan banking concept guru selalu melakukan deposito berbagai informasi tanpa harus tahu untuk apa informasi itu bagi kehidupan mereka.

D.    KOMPONEN PENGEMB. KURIKULUM
  1. Komponen Tujuan (tujuan nasional, institusional, kurikuler)
  2. Komponen Isi (materi/bahan, struktur program)
  3. Komponen PBM (media/sarana, strategi, metode, perencanaan)
  4. Komponen Evaluasi (Ev. Kurikulum, materi dan proses belajar mengajar), sehingga komponen tersebut dapat diskemakan sbb:


KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

Kurikulum Pendidikan Islam identik dengan tujuan pendidikan Islam yakni :
  1. Tuj.Pragmatis :pemanfaatan hidup manusia di dunia
  2. Tuj.manusia muslim, iman, taqwa dan berilmu.
  3. Pengabdian diri kepada Khaliqnya dengan sepenuhnya.
  4. Berakhlak mulia sesuai dg hakikat kejadiannya.
Untuk menuju tujuan tersebut, maka kurikulum atau materi kurikulum pendidikan Islam dapat berupa : 1) bahan-bahan; 2) aktivitas; 3) pengalaman yang mengandung ketauhidan.
-    Bahan kurikulum : dari nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits)
-     Realitas kehidupan.

Dalam kaitannya dengan kurikulum para pemikir (pendidikan) Islam mempunyai perbedaan dalam menetapkan materi kurik. :
1.    Ibnu Khaldun
a.    Ilmu lisan (bahasa) : ilmu lughoh, nahwu sharaf, balaghah, ma’ani, bayan, adab (sastra)
b.    Ilmu Naqli : Al-Qur’an, Al-Hadits
c.    Ilmu Aqli : logika, ilmu alam, teknologi, ilmu teknik, dll.
2.    Al-Ghazali
a.    Ilmu fardlu ‘ain : Al-Qur’an, fiqih, Hadits, dan tafsir.
b.     Ilmu fardlu Kifayah : metafisika,, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian, dan industri.

ASAS-ASAS PENGEMB. KURIKULUM
A.    Asas Filosofis : asas yang berkaitan dengan makna atau nilai.
B.    Asas Psikologis : asas yang mempengaruhi pengembangan kejiwaan dan bakat
C.    Asas Sosiologis : asas yang berkaitan dg. Prilaku sosial masyarakat
D.    Asas organisatoris : asas komprehensif yang menjelaskan asas-asas sebelumnya dalam mengorganisasikan suatu bentuk pembelajaran.

JENIS-JENIS KURIKULUM
1.    Sparated subject curriculum (kurik. Mt.pelajaran terpisah)
       Bahasa Arab
       Nahwu  Sharaf  Khat  Imla’  Muhadatsah  Qiraat  Balaghah
2.    Correlated Curriculum (yang menghubungkan dengan mata pelajaran lain).
3.    Broad field curriculum (kurikulum fusi)
Kurikulum yang berusaha meningkatkan materi dengan mengkombinasikan beberapa mata pelajaran. IPS ( sejarah, geografi, ilmu ekonomi, ilmu politik)
4.    Integrated curriculum (kurikulum terpadu) :
  • Memperoleh ilmu secara fungsional
  • Fleksibel
  • Guru, orang tua dan peserta didik merupakan komponen yang bertanggung jawab dlm proses pengembangannya.
  • Menyentuh aspek-aspek psikologi.

MACAM-MACAM INTEGRATED CURRICULUM
1)    The child centered curriculum (kurik. Yang berpusat pada anak)
2)    The social function curriculum (kurik. Yang dihubungkan dg. Fungsi sosial)
3)    The experience curriculum (kurik.yang mengacu pada pengalaman)
4)    Developmentel activity curriculum (kurik. Yang mengarah pd kegiatan pengembangan)
5)    Core curriculum (kurikulum inti)

PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
  1. Prinsip Relevansi : 1) relevansi pendidikan dg lingkungan; 2) relevansi pendidikan dg kehidupan sekarang dan yang akan datang; 3) relevansi pendidikan dg dunia kerja; 4) relevansi pendidikan dg ilmu pengetahuan.
  2. Prinsip Efektivitas : 1) antara perencanaan KBM dengan pelaksanaan; 2) efektivitas belajar peserta didik dengan tujuan yang diinginkan oleh peserta didik.
  3. P Efisiensi : yaitu terciptanya efisiensi proses belajar mengajar, apabila usaha, biaya, waktu, dan tenaga yang digunakan untuk menyelesaikan program tersebut sangat optimal dan hasilnya seoptimal mungkin dengan pertimbangan yang rasional dan wajar.
  4. P.kesinambungan(kontinyuitas) :kesinambungan antara berbagai tingkat sekolah (bahan ajar SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA DST). Kesinambungan antara berbagai bidang studi (mengubah angka temperature dari skala Celsius menjadi Fahrenhit)pada mata pelajaran IPA sudah harus diajarkan sebelum peserta didik mempelajari cara mengubah temperature.
  5. Prinsip fleksibilitas (keluwesan) : Fleksibel dalam memilih program pendidikan (pilihan spesialisasi program) pendidikan yang ditawarkan, fleksibel dalam pengembangan program pengajaran oleh pendidik.
  6. Prinsip berorientasi pada tujuan : yang berarti sebelum bahan ditentukan langkah pertama,menentukan tujuan kmd menetapkan metode mengajar, alat pengajaran dan evaluasi.
  7. Prinsip dan model pengembangan kurikulum : pengembangan kurikulum dilakukan secara bertahap dan terus menerus, dengan cara memperhatikan tingkat hasil yang dicapai dan melakukan perbaikan, pemantapan, dan pengembangan lebih lanjut.

LANGKAH DLM PENGEMB. KURIKULUM

  1. Adakan penilaian secara umum tentang sekolah (tinggi/rendah prestsi, das sollen dan das sein, sumber-sumber belajar memadai/tidak memadai)
  2. Selidiki berbagai kebutuhan (siswa, guru, perubahan dan perbaikan)
  3. Identifikasi masalah dan rumuskan dan berilah skala prioritas thd kebutuhan.
  4. Ajukan saran perbaikan secara tertulis
  5. Siapkan desain perencanaan
  6. Berikan evaluasi apakah perencanaan dapat dilaksanakan dengan baik
  7. Mantapkan suatu perbaikan, bila baik dapat diteruskan dan perbaikan dijadikan sebagai pedoman selanjutnya, dan bila kurang dapat dilakukan perbaikan.
  8. Libatkan peran (guru, peserta didik, kepala sekolah, inspeksi di Kanwil, orang tua, dan tokoh masyarakat.

EVALUASI PENGEMB. KURIKULUM
Aspek yang harus dievaluasi dalam pengembangan kurikulum antara lain :
1.    Aspek tujuan umum
2.    Aspek perencanaan
3.    Aspek uji coba dan revisi
4.    Aspek uji coba lapangan
5.    Aspek pelaksanaan kurikulum
6.    Aspek pengawasan mutu pelaksanaan kurikulum





----------
Abu ilyas

MAKALAH -- ILMU PENDIDIKAN ISLAM DENGAN PENDEKATAN MANAJEMEN




MAKALAH
ILMU PENDIDIKAN ISLAM DENGAN PENDEKATAN MANAJEMEN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam
Dosen : Dr. Hj. Lilis Fatimah


 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
       Dalam kehidupan berkeluarga, berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara, manejemen merupakan upaya yang sanagt penting untuk mencapai tujuan bersama. Pendidikan yang slah satu faktor penting dalam kehidupan manusia sudah semestinya mendapat perhatian penting dalam hal manejemennya. Pendidikan yang baik merupakan tolok ukur bagi sebuah bangsa tau negara dalam hal kemajuan yang di capai tidak terkecuali dalam Islam.
       Pendidikan dalam Islam sudah semestinya dikelola dan di manage dengan sebaik-baiknya. Manajemen pendidikan Islam merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat dari keterbelakangan baik secara moral, materi, dan spiritual. Dalam Islam, manajemen adalah hal yang sangat penting. Hal ini tampak dalam ungkapan bijak’ “sesuatu yang haq yang tidak di organisir terkadang dikalahkan oleh sesuatu yang batil yang terorganisir”

B.    Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud manajemen Pendidikan Islam ?
2.    Apa saja unsur-unsur pendukung manajemen dalam Pendidikan Islam ?
3.    Apa saja standar pendidikan dalam pendidikan islam ?

C.    Tujuan
Setelah membaca dan mempelajari makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu:
1.    Mengetahui manajemen pendidikan Islam.
2.    Mengetahui unsur-unsur pendukung manajemen dalam pendidikan Islam.
3.    Mengetahui standar pendidikan dalam pendidikan islam.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertin Manajemen dalam Pendidikan Islam
       Kata manajemen berasal dari bahasa Inggris dari kata kerja “to manage” yang sinonimnya antara lain; “to hand’ berarti mengurus, “to control” berarti memeriksa, “to guide” berarti memimpin. Dalam kamus istilah populer, kata manajemen mempunyai arti pengelolaan usaha, kepengurusan, ketatalaksanaan, penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran yang di inginkan direksi. (Pius A Partanto, M. Dahlan Al Barry, Kamus ilmiah Populer).
       Sedangkan manajemen pendidikan adalah aktifitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah di tentukan. Manajemen pendidikan merupakan suatu sisem pengelolaan dan penataan sumber daya pendidikan, seperti tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, kurikulum, dana, sarana dan prasarana pendidikan, tata laksana, dan lingkungan. Pendapat yang lain manajemen pendidikan di rumuskan sebagai mobilisasi segala sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. (Puji Astutik, Makalah Pemikiran Filosofis Tentang manajemen Pendidikan Islam)
       Sedangkan manejemen pendidikan Islam menurut Sulistyorini adalah suatu proses penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang melibatkan sumberdaya manusia muslim dan manusia dalam menggerakkannya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Senada sebagaiman pengertian di atas, Muhaimin mengatakan bahwa manajemen pendidikan Islam adalah bagaimana menggunakan dan mengelola sumberdaya pendidikan Islam secara efektif untuk mencapai tujuan pengembangan, kemajuan, dan kualitas proses dan hasil pendidikan Islam itu sendiri. (Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam).

B.    Unsur-unsur Pendukung Manejemen dalam Pendidikan 
        Islam
       Unsur-unsur manajemen pendidikan Islam merupakan fungsi manajemen. Dimana ketika unsur-unsur yang ada tidak dijalankan maka optimalisasi hasil tidak akan tercapai. Adapun unsur pendukung manajemen pendidikan Islam yaitu :

1.   Planing (Perencanaan)
       Perencanaan adalah sebuah proses yang dilakukan dalam menentukan visi dan misi serta langkah-langkah untuk mencapai tujuan tersebut. Allah memberikan arahan bahwa setiap orang beriman dan bertakwa hendaknya memperhatikan hari esok.
       Planing adalah suatu proses pemikiran, baik secara garis besar maupun secara mendetail. Proses berpikir dilakukan untuk menghindari kerugian atau kegagalan.

2.   Organizing (Pengorganisasian)
       Adalah penyusunan dan pengaturan bagian-bagian hingga menjadi suatu kesatuan. Organizing diperlukan dalam pendidikan Islam dalam rangka menyatukan visi misi sehingga tujuan bisa tercapai. Berkaitan dengan hal ini ada ungkapan ahli bijak yaitu ; ”Kebenaran yang tidak di organisir pasti akan dikalahkan oleh sesuatu yang bathil yang di organisir “
       Pengorganisasian bertujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Selain itu, mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut.

3.   Actuating (Pelaksanaan/Tindakan)
       Actuating pada hakikatnya adalah menggerakkan orang-orang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Actuating merupakan aplikasi atau pelaksanaan dari planing yang telah di susun dan direncanakan.

4.    Controlling (Pengawasan)
       Pengawasan merupakan pengamatan terhadap pelaksanaan kegiatan, menilai dan mengendalikan jalannya suatu kegiatan yang mengarah demi tercapainya tujuan yang telah di rencanakan dan ditetapkan.
Pengawasan merupakan penentu terhadap apa yang harus dilaksanakan sekaligus menilai dan memeperbaiki sehingga pelaksanaan program sesuai dengan apa yang direncanakan oleh pendidikan Islam.

5.    Evaluating (Penilaian)
       Penilaian adalah proses pengukuran dan perbandingan hasil-hasil pekerjaan yang nyatanya dicapai dengan hasil-hasil yang seharusnya dicapai. Penilaian adalah aktivitas untuk meneliti dan mengetahui sampai dimana pelaksanaan yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan.
       Dengan adanya penilaian maka akan dapat diketahui kekurangan dan kelemahan sehingga dapat direncanakan cara memperbaikinya.

6.    Suvervising (Perbaikan)
Supervising adalah suatu proses perbaikan terhadap pelaksanaan kegiatan dengan pedoman pada standar dan peraturan yang berlaku dengan bertujuan agar hasil dari kegiatan tersebut sesuai dengan perencanaan.



C.    Standar Pendidikan dalam Pendidikan Islam
       Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
       Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.
      Pada ilmu pendidikan Islam dengan pendekatan manajemen nantinya harus mengarah pada standar pendidikan nasional, yang mencakup:
  1. Standar isi yakni, ruang lingkup materi dan tingat kompetensi yang dituangkan dalam kreteria tentang kompetensi kelulusan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran dan silabus pemebelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
  2. Standar proses/kegiatan belajar mengajar, adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
  3. Standar kompetensi lulusan, dapat digunakan sebagai penilaian dalam menentukan kelulusan pesera didik dari stuan pendidikan.
  4. Standar pendidik dan tenaga kependidikan, adalah kreteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental serta pendidikan dalam jabatan.
  5. Standar sarana prasarana, adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kerteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi, serta sumber belajar lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran.
  6. Standar pengelolaan, adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasaan kegiatan pendiddikan pada tingkat satuan pendidikan.
  7. Sumber pembiayaan, adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasional satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
  8. Standar penilaian pendidikan, adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.



 
BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
 
       Dari pemaparan makalah diatas dapat di ambil kesimpulan :
  1. Manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang melibatkan sumberdaya manusia muslim dan non manusia demi menggerakkannya untuk mencapai pendidian Islam secara efektif dan efisien.
  2. Unsur-unsur pendukung manajemen dalam pendidikan Islam meliputi planning, organisizing, actuating, dan controlling.
  3. Standar Pendidikan dalam Islam meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi kelulusan, standar pendidik dan tenaga pendidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan.

B.    Saran
       Semoga makalah Manajemen Pendidikan ini bisa menambah wawasan kita dan memberian informasi kepada kita semua dalam hal pengetahuan dalam manajemen pendidikan dalam islam dan kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari hari.




DAFTAR PUSTAKA


Astutik ,Puji, Makalah Pemikiran Filosofis Tentang manajemen Pendidikan Islam, 2007.

A. Partanto ,Pius, M. Dahlan Al Barry, Kamus ilmiah Populer, (Surabaya; Arkola,1994).

Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung,: Nuansa Baru, 2003)

Nata, Abuddin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009)




8 POINT STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

 



8 Poin Standar Nasional Pendidikan - BSNP

Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan terdiri dari :
1.    Standar Kompetensi Lulusan
2.    Standar Isi
3.    Standar Proses
4.    Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
5.    Standar Sarana dan Prasarana
6.    Standar Pengelolaan
7.    Standar Pembiayaan Pendidikan
8.    Standar Penilaian Pendidikan

Fungsi dan Tujuan Standar :
Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

1.    Standar Kompetensi Lulusan
Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 23 Tahun 2006 menetapkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

2.    Standar Isi
Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar isi tersebut memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

3.    Standar Proses
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Selain itu, dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

4.    Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Kualifikasi akademik yang dimaksudkan di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
•    Kompetensi pedagogik;
•    Kompetensi kepribadian;
•    Kompetensi profesional; dan
•    Kompetensi sosial.
Pendidik meliputi pendidik pada TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SDLB/SMPLB/SMALB, SMK/MAK, satuan pendidikan Paket A, Paket B dan Paket C, dan pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan. Tenaga kependidikan meliputi kepala sekolah/madrasah, pengawas satuan pendidikan, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, teknisi, pengelola kelompok belajar, pamong belajar, dan tenaga kebersihan.

5.    Standar Sarana dan Prasarana
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

6.    Standar Pengelolaan
Standar Pengelolaan terdiri dari 3 (tiga) bagian, yakni standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan standar pengelolaan oleh Pemerintah.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Pengelolaan. * Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

7.    Standar Pembiayaan Pendidikan
Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal. Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap.
Biaya personal sebagaimana dimaksud pada di atas meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.
Biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi:
•    Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji,
•    Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan
•    Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya

8.    Standar Penilaian Pendidikan
Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
•    Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
•    Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan
•    Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.
Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi terdiri atas:
•    Penilaian hasil belajar oleh pendidik; dan
•    Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan tinggi.
Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud di atas diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan.



----------
Abu iLyas

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN-- ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN


MAKALAH
ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN 
Dosen : Marhaban, M.Ag


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
       Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yangdianggap s ebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya, banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan. Pemahaman terhadap pemikiran-pemikiran penting dalam pendidikan akan membekali tenaga kependidikan dengan wawasan kesejarahan, yakni kemampuan memahami kaitan antara pengalaman-pengalaman masa lampau, tuntutan dan kebutuhan masa kini, serta perkiraan atau antisipasi masa datang.
       Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi  muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya.

B. Rumusan Masalah
1.  Apa pengertian aliran pendidikan ?
2.  Apa saja macam-macam aliran pendidikan ?

C.  Tujuan
Setelah membaca dan mempelajari makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu:
1.    Untuk mengetahui pengertian aliran pendidikan.
2.    Untuk mengetahui macam-macam aliran pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN



A.    Pengertian Aliran Pendidikan

       Gagasan dan pelaksanaan selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakatnya. Sejak dulu, kini maupun dimasa depan pendidikan itu selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial budaya dan perkembangan iptek. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan pendidikan itu disebut aliran-aliran pendidikan.
       Seperti bidang-bidang lainya, pemikiran–pemikiran dalam pendidikan itu berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan yakni pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir-pemikir berikutnya, dan karena dialog tersebut akan melhirkan lagi pemikiran-pemikiran baru dan demikian seterusnya.

B.    Macam-macam Aliran Pendidikan

1.    Aliran Empirisme
       Aliran Empirisme merupakan aliran yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia. Aliran ini menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungan, sedangkan pembawaan yang dibawanya dari semenjak lahir tidak dipentingkan. Pengalaman yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya. Pengalaman-pengalaman itu berupa stimulan-stimulan dari alam bebas maupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan.
       Tokoh utama aliran ini adalah filsuf Inggris bernama John Lock yang mengembangkan paham Rasionalisme pada abad ke 18. Teori ini mengatakan bahwa anak yang lahir ke dunia dapat diumpamakan seperti kertas putih yang kosong yang belum ditulisi atau dikenal dengan istilah “tabularasa” (a blank sheet of paper). Teori ini mengatakan bahwa manusia yang lahir adalah anak yang suci seperti meja lilin. Dengan demikian, menurut aliran ini anak-anak yanglahir ke dunia tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa, sebagai kertas putih yang polos. Oleh karena itu, anak-anak dapat dibentuk sesuai dengan keinginan orang dewasa yang memberikan warna pendidikannya.
       Aliran Empirisme dipandang sebagai aliran yang sangat optimis terhadap pendidikan, sebab aliran ini hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Adapun kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan keberhasilan seseorang. Aliran ini masih menganggap manusia sebagai makhluk yang pasif, mudah dibentuk atau direkayasa, sehingga lingkungan pendidikan dapat menentukan segalanya.
       Pandangan sebagaimana di atas tentu saja patut dipertanyakan. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, akan ditemukan anak yang berhasil karena memang dirinya berbakat, meskipun pada awal lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Keberhasilan anak tersebut disebabkan oleh kemauan yang luar biasa, sehingga menyebabkan dirinya sadar akan kemampuannya. Kesadaran akan kemampuannya mendorong dirinya lebih berusaha dan terekspresikan dalam bentuk kerja keras mencari dan menemukan lingkungan yang kondusif  bagi perkembangan kemampuannya. Upaya itu menyebabkan dirinya mendapatkan lingkungan yang sesuai, yakni lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau kemampuan yang ada dalam dirinya, sehingga anak tersebut berhasil.

2.    Nativisme
       Paham ini menentang paham Empirisme yang dikemukakan John Lock. Nativs (dari bahasa latin) memiliki arti terlahir. Menurut paham ini, dengan tokohnya seorang filsuf JermanSchopenhauer (1788-1860), dikatakan bahwa anak-anak yang lahir ke dunia sudah memiliki pembawaan atau bakatnya yang akan berkembang menurut arahnya masing-masing. Pembawaan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk.
Oleh karena itu, menurut paham ini perkembangan anak tergantung dari pembawaannya sejak lahir.  Berdasarkan aliran ini, keberhasilan pendidikan anak ditentukan oleh anak itu sendiri. Aliran ini pun berkeyakinan bahwa manusia yang jahat akan menjadi jahat dan sebaliknya, yang baik akan menjadi baik.
       Jadi jelas di sini, bahwa menurut teori ini anak tumbuh dan berkembangnya tidak dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan baik lingkungan sekitar yang ada sehari-hari maupunlingkungan yang direkayasa oleh orang dewasa yang disebut pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan, lingkungan masyarakat, dan orang tua tidak berpengaruh terhadap perkembangananak karena setiap anak akan berkembang sesuai pembawaannya, bukan oleh kekuatan-kekuatandari luar.

3.    Naturalisme
       Paham Naturalisme dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J. Rousseaue yang muncul pada abad ke-18. Nature dalam bahasa latin memiliki makna Alam. Berbeda dengan Schopenhaeuer, Rousseaue berpendapat setiap anak yang baru dilahirkan pada hakikatnya memiliki pembawaan baik. Namun pembawaan baik yang terdapat pada setiap anak itu akan berubah sebaliknya karena dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan tersebut dapat berupa, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, atau lingkungan masyarakat di sekitar dimana anak tumbuh dan berkembang.
       Berdasarkan pendapatnya tersebut, aliran ini dikenal juga dengan sebutan Negativisme. Selanjutnya Rousseaue  mengatakan, anak yang telahir dalam keadaan baik tersebut biarkan berkembang secara alami. Ini artinya bahwa perkembangan anak yang dipengaruhi oleh pendidikan apakah pendidikan di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat sebagai urun rembuk orang-orang dewasa malah akan merusak pembawaan anak yang baik.
       Hal ini seperti dikemukakan oleh J.J. Rousseaue, yaitu : “segala sesuatu adalah baik ketika ia baru keluar dari alam, dan segala sesuatu menjadi jelek manakala ia sudah berada di tangan manusia.”
Oleh karena itu, di sini jelas bahwa Rosseaue tidak berharap pada pendidikan. Dengankata lain sekolah tidak perlu ada. Ia menginginkan perkembangan anak dikembalikan ke alam yang  mengembangkan anak secara wajar karena hanya alamlah yang paling tepat menjadi guru.

4.    Konvergensi
       Konvergensi artinya titik pertemuan. Pelopor aliran Konvergensi adalah William Stern(1871-1939), seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan Jerman. Ia mengatakan bahwa seseorang terlahir dengan pembawaan baik dan juga dengan pembawaan buruk. Ia pun mengakui bahwa proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.
       Aliran ini menyampaikan bahwa bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya lingkungan yang sesuaidengan perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik pun sulit mengembangkan potensi anak secara optimal apabila tidak terdapat bakat yang diperlukan bagi perkembangan yang diharapkan anak tersebut.
       Dengan demikian, paham ini menggabungkan antara pembawaan sejak lahir dan lingkungan yang menyebabkan anak mendapatkan pengalaman. William Stern menjelaskan pemahamannya tentang pentingnya pembawaan dan lingkungan itu dengan perumpamaan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan. Oleh karena itu, teorinya dikenal dengan sebutan Konvergensi (Konvergen berarti memusat kesatu titik).
       Menurut teori konvergensi ada tiga prinsip : (1) pendidikan mungkin untuk dilaksanakan, (2) pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensiyang kurang baik, dan (3) yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
       Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh kembang itu.Variasi-variasi itu tercermin antara lain dalam perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia. Seperti strategi disposisional / konstitusional, strategi phenomenologist/ humanistik, strategi behavioral, strategi psikodinamik/psiko-analitik, dan sebagainya.

5.    Aliran Progresivisme
       Tokoh aliran Progresivisme adalah John Dewey. Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan, ataupun masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya.
       Aliran ini memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan. Hal itu ditunjukkan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan jika dibanding makhluk lain. Manusia memiliki sifat dinamis dan kreatif yang didukung oleh kecerdasannya sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah. Peningkatan kecerdasan menjadi tugas utama pendidik, yang secara teori mengerti karakter peserta didiknya.
       Peserta didik tidak hanya dipandang sebagai kesatuan jasmani dan rohani, namun juga termanifestasikan di dalam tingkah laku dan perbuatan yang berada dalam pengalamannya. Jasmani dan rohani, terutama kecerdasan, perlu dioptimalkan. Artinya, peserta didik diberi kesempatan untuk bebas dari sebanyak mungkin mengambil bagian dalam kejadian-kejadianyang berlangsung disekitarnya, sehingga suasana belajar timbul di dalam maupun di luar sekolah.

6.    Aliran Konstruktivisme
       Gagasan pokok aliran ini diawali oleh Giambatista Vico, seorang epistemiolog Italia. Ia dipandang sebagai cikal bakal lahirnya konstruktivisme. Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan. Mengerti berarti mengetahui sesuatu jika ia mengetahui. Hanya Tuhan yang dapat mengetahui segala sesuatu karena Dia Pencipta segala sesuatu itu. Manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang dikonstruksikan Tuhan.
       Bagi Vico, pengetahuan dapat menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk. Pengetahuan tidak bisa lepas dari subjek yang mengetahui. Aliran ini dikembangkan oleh Jean Piaget. Melalui teori perkembangan kognitif, Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungannya. Pengetahuan merupakan suatu proses, bukan suatu barang.
       Aliran Konstruktivisme ini menegaskan bahwa pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang, melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindra, yaitu penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa. Dengan demikian, aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan dari seseorang kepada orang lain, dengan alasan pengetahuan bukan barang yang bisa dipindahkan, sehingga jika pembelajaran ditujukan untuk mentransfer ilmu, perbuatan itu akan sia-sia saja. Sebaliknya, kondisi ini akan berbeda jika pembelajaran ini ditujukan untuk menggali pengalaman.


BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
       Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan pada pendidikan. Sejak dulu, kini maupun dimasa depan pendidikan itu selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial budaya dan perkembangan iptek.
Macam-macam aliran pendidikan yaitu :
a.    Aliran Empirisme
Aliran Empirisme menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan.
b.    Aliran Nativisme
Aliran nativisme menyatakan bahwa anak-anak yang lahir ke dunia sudah memiliki pembawaan atau bakatnya yang akan berkembang menurut arahnya masing-masing. Pembawaan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk. Aliran ini pun berkeyakinan bahwa manusia yang jahat akan menjadi jahat dan sebaliknya, yang baik akan menjadi baik.
c.    Aliran Naturalisme
Aliran ini berpendapat bahwa semua anak baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik. Pembawaan baik akan menjadi rusak karena dipengaruhi lingkungan. Pendidikan yang diberikan orang dewasa malah dapat merusak pembawaan baik anak itu.
d.    Aliran Konvergensi
Aliran Konvergensi berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan sangat penting.
e.    Aliran Progresivisme
Aliran Progresivisme ini memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan. Peningkatan kecerdasan menjadi tugas utama pendidik, yang secara teori mengerti karakter peserta didiknya.
f.    Aliran Konstruktivisme
Aliran ini menegaskan bahwa pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang, melalui pengalaman yang diterima lewat panca indra, yaitu penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa. Dengan demikian, aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan dari seseorang kepada orang lain karena perbuatan itu akan sia-sia saja.

B.    SARAN
       Demikian makalah ini kami buat, kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat saya butuhkan. Guna perbaikan makalah berikutnya. Dan semoga makalah ini berguna untuk kita semua. Amin.



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Abdurrahman Saleh. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta :PT Rineka Cipta. 2007.

Purwanto, Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung : PT RemajaRosdakarya. 2003.

Suwarno, Wiji. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media. 2009.Tirtarahardja,

Umar dan S. L. La Sulo.  Pengantar Pendidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta.2005.




----------

Abu Ilyas

CHAPTER V -- DAWN OF ISLAM (3)



CHAPTER V
DAWN OF ISLAM (3)
Dosen : H. Mudjahid AM, M.Pdi


       The non-believers were angry with the increasing number of people who declared their acceptance of the religion of Islam. They were full of arrogance and conceit, so they got together and decided to launch a campaign of harassment and provocation against the muslims. They accused the prophet of being a liar, a sorcerer and madman. They made every effort to stop the spread of Islam. But Islam slowly and surely continued spreading among them.
       One day the leader of the non-believers decided to invite the prophet to a meeting to talk about his lies and stop him from spreading the new religion. In the meeting the non-believers said, “if you want wealth, then we are prepared to raise enough money for you to make you the richest among us. If it is honor and prestige you want, we will make your our king. If you are suffering from some kind of illness or possessed by some evil spirit, then we will send for the best doctor or the best healer to come and treat you or drive these evil sports away. But you have to stop calling people to Islam”. The prophet said that he did not want anything and didn’t suffer from any disease; all he wanted was to give them good tidings of Allah’s rewards and to warn them of His Wrath.
       After no further efforts could be made to stop the spread of Islam they made up their minds to get rid of the prophet even by killing him if necessary. The only thing that stopped them doing that straight away was their fear of the prophet’s uncle Abu Talib. So they asked him to stop his nephew from spreading Islam, slandering their gods and mocking their beliefs, or they would fight him, his nephew and those who sided with him. Abu Talib wan in difficult position; he found himself in a real dilemma, torn between two difficult choice. Should he protect his nephew or let him be killed. He thought it might be a good idea if he could talk to Muhammad and try to persuade him in a nice way to give up Islam and end this rift between him and his people. So he called his nephew and told him what had happened with he quraysh people and their offer to him, he said, “So please save me and save yourself from trouble.” There was a pause. The prophet was just about to take a very important decision. The whole world was waiting his answer: would he continue declaring Islam or would he go with his uncle and give it all up.
       He made up his mind and he chose what Allah had chosen for him. He said to his uncle, “By the name Allah, uncle. If your people were to bring the sun and place it in my right hand, and bring the moon and put it in my left hand to persuade me to give up Islam, I would not do so. I shall carry out this duty until Allah makes it triumphant or I die.” Abu Talib was full of surprise and admiration for his nephew. He was impressed by his courage, honesty and determination in his struggle to continue spreading the light of Islam.





BAB V
FAJAR ISLAM (3)

       Orang-orang kafir marah dengan meningkatnya jumlah orang yang menyatakan penerimaan mereka terhadap agama Islam. Mereka penuh arogansi dan kesombongan, sehingga mereka berkumpul dan memutuskan untuk meluncurkan kampanye pelecehan dan provokasi terhadap umat Islam. Mereka menuduh nabi sebagai pembohong, seorang penyihir dan orang gila. Mereka membuat setiap usaha untuk menghentikan penyebaran Islam. Tapi Islam perlahan dan pasti terus menyebar di antara mereka.
       Suatu hari pemimpin kafir memutuskan untuk mengundang nabi ke pertemuan untuk berbicara tentang kebohongan dan menghentikan dia dari penyebaran agama baru. Dalam pertemuan itu orang-orang kafir mengatakan, "jika Anda ingin kekayaan, maka kami siap untuk mengumpulkan cukup uang bagi Anda untuk membuat Anda terkaya di antara kita. Jika itu adalah kehormatan dan prestise yang Anda inginkan, kami akan membuat Anda jadi raja kami. Jika Anda menderita beberapa jenis penyakit atau dimiliki oleh beberapa roh jahat, maka kami akan mengirimkan dokter terbaik atau penyembuh terbaik untuk datang dan memperlakukan Anda atau roh jahat pergi. Tapi Anda harus berhenti memanggil orang Islam ". Nabi mengatakan bahwa dia tidak ingin apa-apa dan tidak menderita penyakit apapun; semua yang ia inginkan adalah untuk memberi mereka kabar gembira dari imbalan Allah dan memperingatkan mereka dari azab-Nya.
       Setelah tidak ada upaya lebih lanjut dapat dibuat untuk menghentikan penyebaran Islam mereka membuat pikiran mereka untuk menyingkirkan nabi bahkan dengan membunuhnya jika diperlukan. Satu-satunya hal yang menghentikan mereka melakukan hal itu langsung adalah ketakutan mereka paman nabi Abu Thalib. Lalu mereka bertanya kepadanya untuk menghentikan keponakannya dari penyebaran Islam, memfitnah dewa-dewa mereka dan mengejek keyakinan mereka, atau mereka akan melawan dia, keponakannya dan orang-orang yang berpihak padanya. Abu Thalib wan dalam posisi sulit; ia menemukan dirinya dalam dilema nyata, terpecah antara dua pilihan yang sulit. Haruskah ia melindungi keponakannya atau membiarkan dia dibunuh. Dia pikir mungkin ide yang baik jika ia bisa berbicara dengan Muhammad dan mencoba membujuknya dengan cara yang baik untuk menyerah Islam dan mengakhiri keretakan antara dirinya dan orang-orangnya. Sehingga ia disebut keponakannya dan menceritakan apa yang telah terjadi dengan dia orang Quraisy dan mereka menawarkan kepadanya, ia berkata, "Jadi silahkan menyelamatkan saya dan menyelamatkan diri dari masalah." Ada jeda. Nabi itu hanya akan mengambil keputusan yang sangat penting. Seluruh dunia sedang menunggu jawabannya: akan dia terus menyatakan Islam atau akan ia pergi dengan pamannya dan memberikan semuanya.
       Dia mengambil keputusan dan ia memilih apa yang Allah telah memilih untuknya. Dia mengatakan kepada pamannya, "Dengan nama Allah, paman. Jika orang yang Anda untuk membawa matahari dan menempatkannya di tangan kanan saya, dan membawa bulan dan meletakkannya di tangan kiri saya membujuk saya untuk menyerah Islam, saya tidak akan melakukannya. Saya akan melaksanakan tugas ini sampai Allah membuat kemenangan atau aku mati. "Abu Thalib penuh kejutan dan kekaguman untuk keponakannya. Dia terkesan dengan keberaniannya, kejujuran dan tekad dalam perjuangan untuk terus menyebarkan cahaya dari Islam.




----------
Abu iLyas

CHAPTER IV -- DAWN OF ISLAM (2)




CHAPTER IV
DAWN OF ISLAM (2)

 
       In beginning of Islam, Muhammad, the messenger, delivered his message to his family as well as to the Quraisyh people. With much struggle and unmatched patience Muhammad managed to collect a few followers. Muhammad talked to people and advised them not to worship the idols which were made of stone and which could neither do them any good nor bring them any harm. He called them instead to follow the religion of Abraham: to believe in one God, Allah, and worship only Him.
       But non-believers went on believing in the idols and refused to accept Islam. They were afraid that Islam would bring them lots of enemies and make the rest of the Arabs hate them and boycott their trade. If that happened, they would be in great trouble. Therefore, they decided to do something to Muhammad and his followers. They agreed to send a delegation to Abu Talib and asked him to settle this matter once and for all.
       The spokesman said: “Look Abu Talib, you are one of our leaders, we greatly honor you. Will you judge between us and your nephew? Tell him to stop insulting our gods, the idols, mocking our religions, criticizing our beliefs and slandering our fathers who taught us these beliefs. Either you stop him or let us deal with him”.
       Abu Talib gave them no answer, but instead sent someone to look for the prophet and tell him to go to his uncle’s house. When the prophet arrived he saw all the important Qurasyh men gathered in his uncle’s house. As soon as he got there, his uncle, Abu Talib, said to him, “My dear nephew, these are the heads of your people and the rich Qurasyh men wishing to make a deal with you. They want you stop attacking their gods, idols and they will let you worship your God”.
       The prophet replied, “Can I call upon them to worship somebody else who is better than these idols?” “Who is that, son?” asked Abu Talib. “I would call upon them to say one little phrase. If they say it the rest of the Arabs will submit to them and they will rule the people of the world. All I want them to say is “There is no god but Allah”.

 

BAB IV
FAJAR ISLAM (2)


       Pada awal Islam, Muhammad, utusan, menyampaikan pesan kepada keluarganya serta orang-orang Quraisyh. Dengan banyak perjuangan dan kesabaran yang tak tertandingi Muhammad berhasil mengumpulkan beberapa pengikut. Muhammad berbicara dengan orang dan menyarankan mereka untuk tidak menyembah berhala yang terbuat dari batu dan yang tidak bisa melakukannya setiap baik atau membawa mereka membahayakan. Dia memanggil mereka bukan untuk mengikuti agama Ibrahim: untuk percaya pada satu Tuhan, Allah, dan ibadah hanya kepada-Nya.
       Tetapi orang-orang kafir melanjutkan percaya pada berhala dan menolak untuk menerima Islam. Mereka takut bahwa Islam akan membawa mereka banyak musuh dan membuat orang Arab membenci mereka dan memboikot perdagangan mereka. Jika itu terjadi, mereka akan berada dalam kesulitan besar. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk Muhammad dan pengikutnya. Mereka setuju untuk mengirim delegasi ke Abu Thalib dan memintanya untuk menyelesaikan masalah ini sekali dan untuk semua.
       Juru bicara itu mengatakan: "Lihatlah Abu Thalib, Anda adalah salah satu dari para pemimpin kita, kami sangat menghormati Anda. Anda akan menilai antara kami dan keponakan Anda? Katakan padanya untuk berhenti menghina dewa-dewa kami, berhala, mengejek agama kami, mengkritik keyakinan kami dan memfitnah nenek moyang kita yang mengajarkan kita keyakinan ini. Entah Anda menghentikannya atau biarkan kami berurusan dengan dia ".
       Abu Thalib tidak memberi jawaban kepada mereka, melainkan mengirim seseorang untuk mencari nabi dan katakan padanya untuk pergi ke rumah pamannya. Ketika Nabi tiba ia melihat semua orang penting Qurasyh berkumpul di rumah pamannya. Begitu tiba di sana, pamannya, Abu Thalib, berkata kepadanya, "Keponakanku sayang, ini adalah kepala orang-orang mu dan orang-orang kaya Qurasyh ingin membuat kesepakatan dengan Anda. Mereka ingin Anda berhenti menyerang dewa-dewa mereka, berhala dan mereka akan membiarkan Anda menyembah Tuhanmu ".
       Nabi menjawab, "Dapatkah saya memanggil mereka untuk menyembah sesuatu yang lebih baik dari berhala-berhala ini?" "Siapa itu, Nak?" Tanya Abu Thalib. "Saya akan memanggil mereka untuk mengatakan satu kalimat kecil. Jika mereka mengatakan itu orang Arab akan menyerahkan kepada mereka dan mereka akan memerintah orang-orang di dunia. Saya saya ingin mereka semua mengatakan "Tidak ada Tuhan selain Allah".


--------
Abu iLyas

CHAPTER III -- DAWN OF ISLAM (1)






CHAPTER III
DAWN OF ISLAM (1)


       The prophet Muhammad had been spreading the religion of Islam quietly for three years when Allah commanded him to declare it to the people publicly. Allah also instructed him to start with his own house-hold – those within his own family. Those among the idolators could be ignored if they would not respond to his call.
       Muhammad understood his orders and went into retirement in his house for a few days. He thought very hard about what he had to do, trying to draw up a plan for the best way to approach his people and call upon them to accept the religion of Islam.
       The news of Muhammad’s retirement reached some of his aunts or relatives. They become worried that he might not be well. They decided to go and pay him a visit. When they got to his house they asked him about his health and told him how worried they had been about him.
       Muhammad answered, “There is nothing the matter with me. Allah has ordered me to introduce Islam to my family and household. So, I have to sit down and think about the best way to do this. I had to collect my thoughts and ideas before I could speak to any of you”.
       Muhammad then went and invited all the members of his family to dinner in his house. He invited all his uncles and his aunts, all his cousins and nieces and all their children. All of Muhammad’s relatives were invited, including even his stubborn and difficult uncle, “Abdul ‘Uzza.
       Then Muhammad began to deliver his message to his family. He explained the new ideas he had received from God and warned them about what would happen to those who chose not to follow him.



BAB III
FAJAR ISLAM (1)


       Nabi Muhammad telah menyebarkan agama Islam diam-diam selama tiga tahun ketika Allah memerintahkan dia untuk menyatakan hal itu kepada orang-orang secara terbuka. Allah juga memerintahkan dia untuk memulai dengan sendiri rumah-tangga - orang-orang dalam keluarganya sendiri. Mereka     orang-orang musyrik bias diabaikan jika mereka tidak akan menanggapi panggilan-Nya.
       Muhammad memahami perintah dan pergi untuk mengasingkan diri di rumahnya selama beberapa hari. Dia berpikir sangat keras tentang apa yang harus ia lakukan, mencoba untuk menyusun rencana untuk cara terbaik untuk mendekati orang dan memanggil mereka untuk menerima agama Islam.
       Kabar pengasingan diri Muhammad mencapai beberapa bibi atau kerabat. Mereka menjadi khawatir bahwa ia mungkin tidak baik. Mereka memutuskan untuk pergi dan menjenguknya. Ketika mereka sampai ke rumahnya mereka bertanya kepadanya tentang kesehatannya dan menceritakan bagaimana khawatir mereka telah tentang dia.
       Muhammad menjawab, "Tidak ada yang peduli dengan saya. Allah telah memerintahkan saya untuk   memperkenalkan Islam kepada keluarga saya dan rumah tangga. Jadi, saya harus duduk dan berpikir tentang cara terbaik untuk melakukan hal ini. Aku harus mengumpulkan pikiran dan ide-ide saya sebelum saya bisa berbicara dengan salah satu dari Anda ".
       Muhammad kemudian pergi dan mengundang semua anggota keluarganya untuk makan malam di rumahnya. Dia mengundang semua paman dan bibinya, semua sepupunya dan keponakan dan semua anak-anak mereka. Semua kerabat Muhammad diundang, bahkan termasuk pamannya yang keras kepala dan sulit, "Abdul 'Uzza.
       Kemudian Muhammad mulai menyampaikan pesan kepada keluarganya. Dia menjelaskan ide-ide baru yang diterimanya dari Allah dan memperingatkan mereka tentang apa yang akan terjadi kepada mereka yang memilih untuk tidak mengikutinya.

---------
Abu iLyas

CHAPTER II - THE BEGINNING OF THE REVELATION




CHAPTER II
THE BEGINNING OF THE REVELATION
         Before becoming a prophet, Muhammad usually spent one month every year in a cave in the top of a mountain near Mecca. There he meditated and thought about religion of Abraham. This was done by him because he refused to accept the beliefs of the people of Mecca who worshipped idols. This continued for a number of years. When he was forty years of age the Archangel Gabriel came to him and convinced him.
        It was clear that he was a prophet from God. He received the first revelation after becoming a prophet. The first revelation said :
       “Read in the name of the Lord who created.
       Created man from a blood clot.
       Read; thy Lord is most beneficial. He taught by pen. Taught man what he knew not”
       When the prophet received this revelation from God and when he became sure, then he began to call people to accept the new religion. The new religion was based on the oneness of God-worshipping only Allah and giving up the worship of idols. About three years after Prophet received the first revelation he was told, “Warn your close relatives”.
       He started to speak to his close friends and his family. Khadija, his wife, was the first woman to accept Islam, and Abu Bakar the first man. ‘Ali ibn Abi Talib, his cousin was the first boy to accept Islam. The number started to increase slowly through the personal contact of the prophet and his close friend, Abu Bakar, but when he received the verse mentioned, this was the sign for him to inform all the people of Mecca of his cause.



BAB II
AWAL TURUNNYA WAHYU

       Sebelum menjadi nabi, Muhammad biasanya menghabiskan satu bulan setiap tahun di sebuah gua di atas sebuah gunung dekat Mekkah. Di sana ia bermeditasi dan berpikir tentang agama Ibrahim. Hal ini dilakukan oleh karena ia menolak untuk menerima kepercayaan dari orang-orang Mekkah yang menyembah berhala. Ini berlanjut selama beberapa tahun. Ketika ia berusia empat puluh tahun malaikat Jibril datang kepadanya dan meyakinkannya.
       Sudah jelas bahwa dia adalah seorang nabi dari Allah. Dia menerima wahyu pertama setelah menjadi seorang nabi. Wahyu pertama mengatakan:
       "Bacalah dengan nama Tuhan yang menciptakan.
       Menciptakan manusia dari segumpal darah.
       Bacalah; Tuhan-mu yang paling menguntungkan. Dia mengajar dengan pena. Mengajarkan  manusia apa yang tidak ia tahu "
       Ketika nabi menerima wahyu ini dari Allah dan ketika ia menjadi yakin, maka ia mulai memanggil orang-orang untuk menerima agama baru. Agama baru didasarkan pada ke-Esaan Tuhan - menyembah hanya Allah dan menyerah penyembahan berhala. Sekitar tiga tahun setelah Nabi menerima wahyu pertama ia diberitahu, "Peringatkan kerabat dekat Anda".
       Dia mulai berbicara dengan teman-teman dekat dan keluarganya. Khadijah, istrinya, adalah wanita pertama yang menerima Islam, dan Abu Bakar manusia pertama. 'Ali bin Abi Thalib, sepupunya adalah anak pertama yang menerima Islam. Jumlah tersebut mulai meningkat perlahan-lahan melalui kontak pribadi nabi dan teman dekatnya, Abu Bakar, tetapi ketika ia menerima ayat disebutkan, ini adalah tanda baginya untuk menginformasikan semua orang Mekah tentang penyebab nya.

CHAPTER I -- AN APPROACH TO THE STUDY OF RELIGION



CHAPTER I

AN APPROACH TO THE STUDY OF RELIGION



There is a crucial question about the study of religion. The question is “Is it possible to study religion scientifically?” Religion is a social phenomenon as are politics, economics, psychology, anthropology and the like. These social sciences can be studied scientifically, so can religion. Religion is a universal phenomenon and is the most important ingredient in the study of human life.

There are two approaches to the study of religion. These approaches are linked through the unbroken line of the two extremes. The first approach is normative and the other is descriptive. The normative approach is based on the criteria if what is true and good and what is bad, what one ought to do and ought not to do. This based on the personal internal experiences of the religion founder of the messenger in contact with the divinity; the transcendental experience. This approach can be looked at two ways. The first one is theology, that is an attempt to give a systematic traditional expression of religious experience. In Islam it is called the “Aqa’id”, something which must be accepted and believed. The second way is religious ethics or moral behavior: how to act with one’s fellow man. The second approach is descriptive which is based on intellectual curiosity rather than of belief.

There is a number of disciplines which will help in understanding religion. The first is the history of religion: looking at religious behavior historically. The second is the psychology of religion: understanding the mental process and feeling of religious people, and the last is the sociology of religion: trying to understand how religious groups organized themselves, the role of religious institutions, religious leaders, law, and the state. Using the descriptive approach, it is possible to study religion scientifically.



SUATU PENDEKATAN STUDI AGAMA


Ada pertanyaan penting tentang studi agama. Pertanyaannya adalah "Apakah mungkin untuk mempelajari agama secara ilmiah " Agama adalah fenomena sosial seperti politik, ekonomi, psikologi, antropologi dan sejenisnya. Ini ilmu sosial dapat dipelajari secara ilmiah, sehingga bisa agama. Agama adalah fenomena universal dan merupakan bahan yang paling penting dalam mempelajari kehidupan manusia.

Ada dua pendekatan untuk mempelajari agama. Pendekatan ini dihubungkan melalui garis tak terputus dari dua ekstrem. Pendekatan pertama adalah normatif dan yang lainnya adalah deskriptif. Pendekatan normatif didasarkan pada kriteria jika apa yang benar dan baik dan apa yang buruk, apa yang harus dilakukan dan tidak seharusnya dilakukan. Ini berdasarkan pengalaman internal yang pribadi pendiri agama utusan kontak dengan keilahian; pengalaman transendental. Pendekatan ini dapat melihat dua cara. Yang pertama adalah teologi, yang merupakan upaya untuk memberikan ekspresi tradisional sistematis pengalaman religius. Dalam Islam itu disebut "Aqa'id", sesuatu yang harus diterima dan dipercaya. Cara kedua adalah etika agama atau perilaku moral: bagaimana bertindak dengan satu sesama manusia. Pendekatan kedua adalah deskriptif yang didasarkan pada keingintahuan intelektual daripada keyakinan.

Ada sejumlah disiplin yang akan membantu dalam memahami agama. Yang pertama adalah sejarah agama: melihat perilaku keagamaan historis. Yang kedua adalah psikologi agama: memahami proses mental dan perasaan orang-orang religius, dan yang terakhir adalah sosiologi agama: mencoba untuk memahami bagaimana kelompok agama mengorganisir diri, peran lembaga agama, tokoh agama, hukum, dan negara . Menggunakan pendekatan deskriptif, adalah mungkin untuk belajar agama secara ilmiah.


by : Abu iLyas

KISAH KHADIJAH

            



             Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Seluruh harta kekayaan Khadijah diserahkan kepada suaminya, diserahkan kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, untuk memperjuangkan agama islam ini. dua pertiga kekayaan kota Mekkah milik Khadijah.
 
Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kafan yang digunakan untuk menutup jasad Khadijah. Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu, adalah pakaian yang sangat kumuh, dengan delapan puluh tiga tambalan, diantaranya dengan kulit kayu.


DIKISAHKAN,

Suatu hari Nabi pulang dari kerja dakwah, ketika pulang masuk ke dalam rumah, biasa Khadijah menyambut berdiri di depan pintu.
Ketika Khadijah hendak berdiri menyambut, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Wahai Khadijah tetaplah kamu di tempatmu”. ketika itu Khadijah sedang menyusukan Fatimah yang ketika itu masih bayi.
 
Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Karena begitu pengorbanan nabi dan Khadijah untuk agama ini, untuk bagaimana hari ini kita kenal Rabb, untuk bagaimana hari ini kita kenal bagaimana kita sholat, bagaimana kita hari ini kenal Tuhan yang sebenarnya, kita kenal Allah, 

Seluruh harta kekayaan mereka telah menjadi habis, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar tetapi darah yang keluar yang masuk ke dalam mulut daripada Fatimah Radhiallohu’anha.
 
Maka Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam telah mengambil ini Fatimah dan diletakkan di tempat tidur, gantilah nabi berbaring di pangkuan Khadijah. Maka Nabi begitu lelah jumpa manusia, dengan menghadapi caci maki dan fitnah manusia ketika itu. Nabi tertidur, ketika itulah Khadijah dengan belaian kasih sayang membelai kepala Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. tak terasa air mata Khadijatul Kurba menetes di pipi Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam. Nabi pun terjaga, “Wahai Khadijah, kenapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan.. tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauh darimu... seluruh harta kekayaanmu habis, Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?”
 
Khadijatuhl Kubra berkata, “Wahai suamiku, Wahai Nabi Allah! Bukan itu yang aku tangiskan, dahulu aku memiliki kemuliaan... kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku punya kebangsawanan.. kebangsawanan itu pun  aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan.. seluruh harta kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya”
 
“Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi, tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya aku telah mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan... engkau hendak menyeberangi sebuah sungai... dan engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan, maka engkau galilah lubang-lubang kuburku, kau galilah kuburku, engkau ambillah tulang belulangku, kau jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyeberangi sungai itu untuk jumpa manusia, ingatkan mereka kepada kebesaran Allah, ingatkan mereka kepada yang hak, ajak mereka kepada Islam... wahai Rasulullah.
Jama’ah yang dimuliakan Allah...

Seorang Nabi yang agung, seorang istri yang agung, suami istri berpelukan sambil menangis memikirkan agama ini. Allohu Akbar.
 
Agama tersebar, hari ini kita kenal Allah, tidak dengan mudah jama’ah yang mulia. Agama sampai dalam kehidupan kita, agama sampai ke kampung kita, agama masuk ke dalam rumah-rumah kita, agama sampai ke dalam hati-hati kita, jama’ah yang mulia, bukan dibawa oleh burung, bukan dibawa oleh angin, bukan dibawa oleh air sungai yang mengalir, bukan jama’ah yang mulia.
tapi dibawa oleh pengorbanan nabi dan para sahabat. dibawa oleh pengorbanan para janda-janda sahabat, dibawa oleh yatim-yatim para sahabat, jama’ah yang mulia.
 
Ulama beritahu hari ini kita senang-senang amal agama di atas penderitaan dan jeritan janda-janda dan yatim para sahabat. Hari ini kita kadang-kadang senang amalkan agama di atas penderitaan Khadijatul Kubra Radhiallohu’anha.
 
Kalaulah hari ini kita tidak hargai pengorbanan mereka, apa yang harus kita jawab di hadapan Allah Kalaulah kita jumpai Allah... Apa yang akan kita jawab di hadapan Nabi kalau kita jumpa dengan Nabi. Apa yang akan kita jawab kalau kita jumpai dengan Abu Bakar, yang telah menghabiskan seluruh harta bendanya untuk agama ini. 

Apalah yang akan kita jawab wahai ibu-ibu yang mulia, kalau ibu-ibu jumpa dengan sahabiah-sahabiah yang telah mengorbankan suami-suami mereka syahid di jalan Allah. 

Apa yang akan kita jawab sekiranya kita jumpa dengan anak-anak yatim para sabahat, sedangkan mereka telah mengorbankan ayah-ayah mereka untuk perjuangkan agama ini.
 
Agama ini sangat berhajat kepada pengorbanan, jama’ah yang mulia. agama tidak akan tersebar dengan tulisan-tulisan, agama pun tidak akan tersebar dengan baik, agama tidak akan pernah wujud dalam kehidupan kita tanpa kita mengorbankan diri kita, jama’ah yang mulia.
Sudah menjadi syarat agama akan terwujud melalui pengorbanan, jama’ah yang mulia.  hidayah akan datang dalam diri kita melalui pengorbanan. agama akan tersebar, hidayah akan tersebar ke ujung-ujung dunia melalui pengorbanan, jam’ah yang mulia

 
Copyright © 2014 Abu iLyas, AMK. S.Pd. M.Si. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger